Friday, 24 October 2014

Tentang Rasa

Kontradiktif.
Satu kata dapat menjelaskan keseluruhan tulisanku ini.

18 Oktober 2014
Dini hari pukul (00.58), aku duduk di sebuah kamar bercahaya redup, di sebuah ruangan dengan setumpuk pikiran yang tidak bisa dilupakan begitu saja dari ingatanku. Bisakah kau menebaknya? Ya, salah satunya adalah pikiran tentangmu.
Beberapa minggu, bahkan bulan yang lalu, kamu memang salah satu topik favorite yang selalu berputar dalam pikiranku. Dan hal itu masih sama, hingga beberapa hari terakhir ini. Kamu, seseorang yang aku “entah disebut rasa apa itu”, yang mungkin telah tau bahwa ku memiliki rasa itu. Malam ini, ceritaku (lagi-lagi) mengenai dirimu. Bahagia? Tunggu dulu.
Sebelum ku bercerita, aku ingin memberitahu sesuatu. Mungkin nantinya saat terakhir kamu membaca, kamu akan memiliki kesimpulan bahwa tulisan manis yang ku tuangkan sebelum-sebelumnya adalah hanya bualan semata. Namun kamupun pasti tahu, ketika rasa telah memainkan perannya, kita semua tidak bisa berbuat apa-apa.
Menyerah, bukanlah kata yang tepat untuk mengawali cerita ini, dan juga tidaklah tepat untuk menjadi sebuah akhir. Aku memilih untuk tidak menggunakan kata itu.
.............

23 Oktober 2014
Angka di ujung laptopku menunjukkan pukul 23.27. Aku masih terduduk di sini entah bertanya pada diriku sendiri untuk meyakinkan perasaanku. 5 (lima) hari dan tulisan ini masih juga belum selesai dan mungkin masih akan terus berlanjut. Aku masih meyakinkan perasaanku. Entah mungkin ini caraku mengambil sikap. Aku tidak mau gegabah dalam memutuskannya. Namun aku semakin menemui titik terang itu. Yang (mungkin) itu bukan tentang kamu. Sekali lagi, aku masih ragu.
Rasa itu tiba-tiba menghilang, entah kemana. Mungkin karena aku terlalu sibuk mengagumimu. Rasa kagum, mungkinkah itu? Rasa itu tak lagi sama ketika aku berbicara denganmu. Rasa itu tak lagi sama ketika ku berdua denganmu. Rasa itu tak lagi sama ketika ku berusaha mencari sesuatu dalam dirimu. Ya bila kau menyadari, aku sering menatap matamu, hanya untuk mencari rasa itu.
Salah satu faktor lainnya mungkin karena perubahan sikapmu. Entah mengapa aku merasa akhir-akhir ini kamu berbeda, setidaknya sikapmu padaku. Kamu harus mengakuinya, karena itu sangat terlihat jelas olehku.
Ohiya, ku ingin berbagi denganmu tentang ceritaku hari ini. Mungkin ini terdengar sedih atau mungkin terdengar lucu, kamu bebas untuk menentukannya. Kamu bebas melakukan apa saja. Ketika ku berbicara mengenai dirimu dengan beberapa teman dekatku, aku menanyakan bagaimana ketika mereka melihat “kita”. Mereka bilang, dahulu kita tidak terlihat seperti ada apa-apa (dan mungkin memang tidak ada apa-apa hingga sekarang). Namun kemudian mereka melanjutkan......bahwa akhir-akhir ini mereka melihat chemistry diantara kita.
Chemistry? How come?
Disaat aku sudah mulai mempertanyakan rasa yang aku simpan padamu.
.............

Sunday, 19 October 2014

Kejutan.

Tetes air itu kembali membasahi. Untuk kali pertama setelah sekian lama ia tidak pernah hadir. Akhirnya menetes menghiasi sunyinya malam yang ku rasakan.
Hanya dengan satu lontaran pertanyaan, pun yang berasal dari diriku, membuat malam ini mendadak menjadi kelabu. Setidaknya untukku.
Aku tak mengerti, rasa egoisku malam ini muncul secara tiba-tiba. Mungkin karena aku mulai meredam hal itu sedari lama. Tapi malam ini berbeda, dan aku tidak ingin menutupinya.
Satu kenyataan yang ketika ku tahu entah mengapa terasa.....akupun tak tahu bagaimana ku bisa mendeskripsikannya. Hal ini tentang kamu, yang berasal dari masa lalu. Dan aku yang selalu mencoba mencari tahu. Aku tahu malam ini salah bila ku membandingkan kehidupanku yang dulu dan apa yang sedang ku jalani. Awalnya ku berpikir apakah memang berbeda, karena kamu salah satu pemeran utama yang sungguh terlibat didalamnya (dulu), sekarang (dan sejak dulu) telah terpisahkan. Mungkin dulu kita dipisahkah hanya oleh jarak. Hanya? Mungkin juga tidak dapat dikatakan sebagai hanya. Ya jarak. Jarak yang sangat jauh, 5.861 km. Namun sekarang kita juga dipisahkan oleh kenyataan. Dipisahkan oleh keharusan. Dan pikiran itu tetiba muncul, aku merasa, ya hanya perasaanku, hidupku sangatlah berbeda dan mungkin aku masih belum bisa menyesuaikannya. Hingga akhirnya ku putuskan, setelah tepat satu bulan sejak terakhir aku mendapat pesanmu yang sungguh menyakitkan, untuk mencari tahu tentang dirimu lagi. Kemudian aku menemukan sebuah kenyataan bahwa mungkin kamu telah bahagia. Tapi bukan seperti yang dulu kita rancang sedemikian rupa. Melainkan kebahagian yang mungkin telah kau rancang baru dengan orang yang berbeda.
Egois? YA. Aku mengakui hal itu. Disini aku juga memiliki perasaan dengan seseorang yang entah ku tak tahu bagaimana perasaannya. Dan aku yakin yang aku rasakan bukan hanya sekedar rasa biasa. Tapi, malam ini, setelah ku mengetahui kenyataan itu, diriku mencari-cari dimana rasa yang pernah ada untukmu. Aku yang mencari rasa pahit itu. Ketika pikiran tidak langsung memberikan respon terhadap perasaanku. Akulah yang mencari-cari perasaan itu. Bodoh? Ya. Karena aku merasa memang seharusnya ada rasa sakit diantara rasa-rasa baru yang sudah timbul. Setidaknya rasa kecewa dalam diriku. Dan aku menemukannya.  
Kamu, kisah indah selama tiga tahun lalu yang sempat hadir dalam kehidupanku, berhasil membuatku mengeluarkan rasa egoisku untuk malam ini. Kamu berhasil membuatku memembasahi sekitar pelupuk mataku. Kamu berhasil membuatku teringat kembali.
Bukan, cerita ini bukan tentang kita lagi. Cerita ini hanya tentangku, tentang keegoisanku. Tapi, aku bersyukur, perasannku tidak lagi seperti dulu. Sehingga, aku harus mencari-cari terlebih dahulu dimana rasa sakit itu. 

The past can't hurt you anymore, not unless you let it.” 
Alan Moore, V for Vendetta

Teruntuk dirimu yang hanya menjadi subjek ketiga pada ceritaku malam ini, inilah aku dan masa laluku. Kamupun pasti mengerti karena kamu juga mempunyai masa lalu. Dan malam ini, melalui ceritaku, kamu bisa melihat sisi lain dari diriku. Mungkin ini akan membuatmu bertambah ragu.
Untukmu yang akhir-akhir ini menghiasi pikiranku, aku tahu kau masih memasang benteng itu. 
Ku masih menunggu. 

Saturday, 18 October 2014

Teruntuk Bahagia, yang (lagi-lagi) Tentang Dirinya

Teruntuk Bahagia,
Terima kasih kau telah memberiku kesempatan, untuk dapat merasakan rasamu. Terima kasih kau telah memberiku bayangan indah, dalam kenanganku. Terima kasih, walau tak jarang kau bekerjasama menciptakan rasa bersama saudaramu (yang selalu tak bahagia). Dan terima kasih untuk sempat, masih, dan semoga terus akan hadir di hidupku.
Aku ingin bercerita padamu, yang mungkin kamupun telah tahu. Ya, disini kamu menjadi salah satu rasa yang diciptakan dari apa yang aku alami. Entah bagaimana prosesnya, yang pasti disini, aku tahu, itu merupakan rasa bahagia.
Dirinya, ya dia, seseorang yang tidak sempurna yang bisa membuatku merasakan rasamu. Dirinya begitu sederhana, tapi entah mengapa berbeda di mataku. Dirinya, yang dengan hal kecil, bisa membuat senyumku terangkat dan perasaanku menjadi tak menentu. Bahagia, dirinya sangat berharga untukku.
Bahagia, rasamu sudah lama timbul dalam diriku sejak awal aku bertemu dengan dirinya. Rasamu lalu semakin tak menentu, saat ku mengalami sesuatu hal baru dengannya. Rasamu kemudian menjadi menggebu, ketika ku semakin dekat dengan dirinya. Salahkah ketika ku sekarang mempertanyakan, apakah kamu sedang bekerjasama dengan rasa lainnya untuk memformulasikan apa yang ku rasa? Lama pertanyaan itu terpendam dalam benakku. Hingga akhirnya aku membuat kesimpulan, bahwa kau sedang bersandingan dengan rasa sayang dalam menciptakan rasa untukku.
Aku mungkin sempat meragukan hipotesa ku. Tak jarang aku ingin menyudahi pikiranku tentang rasamu dan rasa itu. Dirinya tak melulu meyakinkanku, haruskah ku bertahan, atau melepaskan segala rasaku. Sering pula ku menanyakan pada diriku, apakah aku yang membuatnya menjadi ragu.
Bahagia, dapatkah aku meminta padamu untuk tetap melibatkan dirinya dalam rasa yang kau ciptakan untukku? Aku tahu mungkin terdengar sangat egois, ketika disinipun aku tak tahu apa yang dia rasakan. Bahkan ketika aku pun juga tak tahu, bagaimana posisiku bagi dirinya yang mungkin tak begitu berarti dibandingkan dengan dirinya bagi diriku. Namun disini ku mengira, tak ada salahnya bila ku meminta. Walaupun nantinya, kenyataan mungkin akan berbeda.
Bahagia, ku masih menunggu bahagia-bahagia mu, yang semoga tentang dirinya.

*created on September 30th